Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juni 2011

Siapakah Aku?

Darimana asalku, dan hendak kemana Aku menuju?
Untuk apakah Aku diciptakan-Nya?
Apa cita-citaku?
Siapa musuhku?
Apa senjataku?
Siapakah istiku / suamiku?
Siapakah anakku?
Apakah kompas hidupku?
Siapakah tokoh idolaku?
Berapa lama jatah yang diberikan-Nya padaku untuk tinggal di dunia?
Kemanakah Aku akan pergi setelah itu?
Bagaimana keadaanku nanti di sana?
Makin susah ataukah makin senang?

Kenalilah dirimu sebelum mengenal Tuhanmu!

Baca Selengkapnya...

Tingkatan Keperibadian Manusia

Menurut Abdul Fattah Rashid Hamid, Ph. D., seorang psikolog Muslim lulusan St. Louis University USA, dalam bukunya yang berjudul “Pengenalan Diri dan Dambaan Spiritual” menyebutkan bahwa perjalanan setiap individu dalam menuju kesempurnaan kepribadiannya akan melewati tingkatan keperibadian sebagai berikut :

Kepribadian Tingkat 1
Pada tingkat ini manusia condong pada hasrat dan kenikmatan dunia. Minatnya tertuju pada pemeliharaan tubuh, kenikmatan selera-selera jasmani dan pemanjaan ego. Di tingkat ini iti, serakah, sombong, pamer, fitnah, dusta, marah, dan sejenisnya menjadi yang paling dominan.

Kepribadian Tingkat 2
Pada tingkat ini manusia sudah mulai melawan nafsu jahat yang timbul, meskipun ia masih bingung tentang tujuan hidupnya. Jiwanya sudah melawan hasrat-hasrat rendah yang muncul. Diri masih menjadi subyek yang dikendalikan hasrat-hasrat yang bersifat fisik, ia masih sering tertipu oleh muslihat dunia yang sementara ini.

Kepribadian Tingkat 3
Pada tingkat ini manusia sudah menyadari cahaya sejati tidak lain adalah petunjuk Allah. Semangat taqwa dan mencari ridho Allah adalah semboyannya. Ia tidak lagi mencari kesalahan-kesalahan orang lain tetapi ia selalu instropeksi untuk menjadi hamba Allah yang lurus. Ia selalu zikir dan mengikuti sunah nabi Muhammad SAW.

Kepribadian Tingkat 4
Pada tingkat ini hati telah mantap, merasa cukup dengan apa yang dimilikinya dan tidak tertarik dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Ia sudah tidak ingin berlomba untuk menyamai orang lain. Ketinggalan ‘status’ baginya bukan berarti keterbelakangan dan kebodohan. Ia menyadari bahwa ketidak puasan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah menunjukkan keserakahan dan ketidak matangan pribadi. Pada tingkat ini, manusia mengetahui bahwa seseorang tidak dapat memperoleh kebaikan apa pun kecuali dengan kehendak Allah. Hanya Allah yang mengetahui apa yang terbaik dalam situasi apa pun.

Kepribadian Tingkat 5
Pada tingkat ini, manusia telah menemukan kebahagian dalam mencintai Allah SWT. Ia tidak ingin memperoleh “pengakuan” dari masyarakat atau pun tentang tujuannya. Jiwanya telah tenang, terbebas dari ketegangan, karena pengetahuannya telah mantap bahwa segala sesuatu akan kembali pada Allah. Ia benar-benar telah memperoleh kualitas yang sangat baik dalam ketenangan dan keheningan.

Kepribadian Tingkat 6
Ini adalah cirri tambahan bagi jiwa yang puas dan tenang. Ia merasa bahagia karena Allah ridho padanya. Ia selalu waspada akan tumbuhnya keengganan yang paling sepele terhadap kodratnya sebagai abdi Tuhan. Ia menyadari bahwa Islam adalah fitrah insane dan ia pun haqqul yaqin pada firman Allah, “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik padamu…”. Ia patuh pada Allah semata-mata hanya sebagai perwujudan rasa terima kasih nya.

Kepribadian Tingkat 7
Ini adalah tingkat manusia yang telah sempurna. Kesempurnaannya adalah kesempurnaan moral yang telah bersih dari semua hasrat kejasmanian sebagai hasil kesadaran murni akan pengetahuan yang sempurna tentang Allah. “Selebung diri”nya telah terbuka hanya mengikuti Kesadaran Ilahi. Nabi Muhammad SAW adalah contoh manusia yang telah sampai pada tingkat ini. Kepribadiannya mengungkapkan segala hal yang mulia dalam kodrat manusia.

Nah… ditingkat mana kah kita berada? Itu hanya kita yang bisa mengetahui di tingkat mana kita berada. Berjihadlah untuk memperbaiki peringkat.

Baca Selengkapnya...

Kamis, 02 Juni 2011

Keutamaan Ilmu atas Harta

Keutamaan ilmu dibandingkan harta antara lain adalah :


  1. Ilmu adalah warisan para nabi, sedangkan harta adalah warisan para raja dam orang-orang kaya.
  2. Ilmu menjaga pemiliknya, sedangkan harta harus dijaga oleh pemiliknya.
  3. Harta habis jika dipakai (dibelanjakan), sedangkan ilmu semakin bertambah jika dipakai.
  4. Pemilik harta akan meninggalkan hartanya jika mati, sedangkan ilmu akan dibawa hingga ke alam kubur.
  5. Ilmu bisa mengatur harta, sedangkan harta tidak bisa mengatur ilmu.
  6. Jiwa menjadi bersih karena banyaknya ilmu dan mulia karena memperoleh ilmu. Adapun harta tidak bisa membersihkan jiwa dan menyempurnakannya. Bahkan jiwa akan terus merasa kurang, kikir, dan rakus karena banyaknya harta.
  7. Ketamakan seseorang terhadap ilmu adalah inti dari kesempurnaannya. Ketamakannya terhadap harta adalah inti dan kekurangannya.
  8. Harta selalu mengajak pada kezaliman dan kesombongan, sedangkan ilmu mengajak pada tawadhu' dan pelaksanaan ibadah yang benah.
  9. Cinta ilmu dan mencarinya adalah pokok dari segala ketaatan, sedangkan cinta harta dan mencarinya adalah pokok dari segala kejelekan.
  10. Ketaatan kepada Allah hanya dapat diperoleh dengan ilmu, sedangkan mayoritas orang yang durhaka kepada Allah disebabkan oleh harta.
  11. Pemilik harta dipuji ketika ia mengeluarkan hartanya, sedangkan pemilik ilmu dipuji karena ilmu dan sifat yang menghiasinya.
  12. Orang yang kaya harta, kekayaannya pasti akan ia tinggalkan, serta merasa sakit dan sedih karena berpisah dengannya. Adapun orang kaya ilmu, kekayaannya akan abadi serta tidak menyebabkan sakit dan sedih.
Jika demikian, kekayaan harta adalah kenikmatan semu yang mengakibatkan rasa sakit. Sementara kenikmatan ilmu adalah kenikmatan yang abadi yang tidak diiringi rasa sakit.

Sumber : Buku Olahraga Hati

    Baca Selengkapnya...

    Nikmatnya Rasa Sakit

    Rasa sakit tidak selamanya tak berharga, sehingga harus selalu dibenci. Sebab, mungkin saja rasa sakit itu justru akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang.

    Ketulusan sebuah doa muncul tatkala rasa sakit mendera. Demikian pula dengan ketulusan tasbih yang senantiasa terucap saat rasa sakit terasa. Adalah jerih payah dan beban berat saat menuntut ilmulah yang telah mengantarkan seorang pelajar menjadi ilmuwan terkemuka. Ia telah bersusah payah di awal perjalanannya, sehingga ia bisa menikmati kesenangan di akhirnya.

    Lain halnya dengan seorang pelajar yang senang hidup foya-foya, tidak aktif, tak pernah terbelit masalah, dan tidak pula pernah tertimpa musibah. Ia akan selalu menjadi orang yang malas, enggan bergerak, dan mudah putus asa.

    "Yang demikian itu ialah karena mereka ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal salih. Sesungguhnya, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik" (QS. At-Taubah: 120)

    Di dunia ini banyak orang yang berhasil mempersembahkan karya terbaiknya dikarenakan mau bersusah payah. Banyak orang yang kaya karena terlebih dahulu bersusah payah dalam masa mudanya. Oleh karena itu, tak usah bersedih bila Anda harus bersusah payah, dan tak usah takut dengan beban hidup, sebab mungkin saja beban hidup itu akan menjadi kekuatan bagimu serta akan menjadi sebuah kenikmatan pada suatu hari nanti.

    Jika Anda hidup dengan hati yang berkobar, cinta yang membara dan jiwa yang bergelora, akan lebih baik dan lebih terhormat daripada harus hidup dengan perasaan yang dingin, semangat yang layu, dan jiwa yang lemah.

    Sumber : Buku La Tahzan

    Baca Selengkapnya...